Posted by: Tun Sriana | December 27, 2013

BeLaJaR MeNjaDi PeNDiDiK..

paket cSetelah menyelesaikan tugasku menjadi seorang tutor di Universitas Terbuka-Hongkong, akhirnya aku memutuskan untuk bergabung menjadi pengajar pada Program Kejar Paket C di Taiwan. Jika aku ditanya motivasiku, simpel sebenarnya aku hanya ingin merasa sedikit berguna untuk orang lain. Entah kenapa, aku  merasa sering tidak optimal mengaplikasikan ilmu yang sudah Tuhan titipkan untukku. Terkadang ada perasaan gamang yang mengusik hati, jika ada yang menanyakan apa yang telah kamu berikan kepada orang lain? Aku terlalu takut jika jawabanku hanya sekedar diam dan tak tahu jawabannya.

Keputusanku menjadi seorang pengajar di Kejar Paket C atau pendidikan setara SMA ini mendapat banyak pertanyaan dari teman-temanku disini. Pertanyaan yang sedikit memetikan api emosi, “kenapa seorang mahasiswa Ph.D dan calon doktor mau hanya mengajar setara SMA?”. Untung saja aku sudah terbiasa untuk mengontrol emosiku dan tidak pernah serius menangapi apapun yang orang komentarkan padaku. Pertanyaan ulang yang ingin aku utarakan kepada mereka “Apakah kalian sudah merasa paling hebat dengan apa yang telah Tuhan titipkan? Apakah kalian akan sepercaya diri ini jika Tuhan mengubah hidup kalian 180 derajat?”. Jangan terlalu mengangap remeh dengan orang lain, bersyukurlah dengan nikmat yang telah Tuhan berikan dan jangan takabur dengan itu semua. 

Aku bangga menjadi bagian dari Program ini, meskipun baru pertama kali aku bertemu dengan murid-muridku tapi aku telah melihat semangat yang luar biasa dari mereka. Semangat itulah yang mungkin tidak pernah aku miliki dan membuat aku terkadang menjadi iri. Aku hanya berdoa semoga aku bisa menjadi guru yang baik, yang bisa mentransfer semua ilmu yang aku miliki kepada mereka sesuai kapasitasnya. Dan aku tentunya juga berharap suatu saat mereka akan menjadi orang-orang yang hebat dan bahkan bisa melebihiku. 

Apapun pandangan orang dan pendapat orang tentang aku, aku tidak akan pernah perduli. Yang aku perdulikan adalah aku bahagia saat aku bisa berbagi, aku merasa terharu saat aku bisa memberikan apa yang aku punyai. Jika orang-orang punya cita-cita merubah bangsa yang katanya sudah bobrok, biarlah… aku hanya cukup dengan langkah-langkah kecilku, mencoba menjadai garda depan untuk memajukan pendidikan. Tak akan terlihat tapi itu akan membekas dan menjadi sebuah goresan indah yang akan aku tinggalkan.

Posted by: Tun Sriana | December 1, 2013

MuNgKiN MeReKa….??

image

Foto ini adalah foto yang aku ambil saat aku melakukan perjalanan dalam rangka mengisi waktu luang dalam rangka black out day weekend ini. Tempat pengambilan foto ini adalah diatas bukit yang menghadap langsung ke samudra pasifik.

Pertama kali aku melihat perahu yang berada jauh dibawah tempatku berpijak, aku tidak merasakan feeling apapun. Aku merasa itu adalah pemandangan biasa yang bisa kita jumpai jika kita berkunjung atau melihat pemandangan laut.

Entah mengapa, seperdetik kemudian aku teringat saudara-saudaraku yang selama ini bekerja sebagai ABK disini. Kembali kenangan-kenangan saat aku bermain ke pelabuhan-pelabuhan di Taiwan menghujam sanubari. Teringat kembali perjuangan berat yang mereka ceritakan, semangat dan harapan yang membuat mereka bertahan dan keramahan yang selalu mereka tawarkan.

Aku mencoba untuk memastikan apakah ada seseorang disana. Kemudia aku arahkan lensa kameraku kearah perahu tersebut, dan aku bisa dengan jelas melihat tiga orang yang sedang berada disana. Entah….tapi aku bisa merasakan bahwa mungkin salah satu dari mereka adalah saudara kita yang sedang berjuang mengadu nasib disini.

Ada perasaan miris yang menyayat hati. Ada kesedihan yang sama yang aku rasakan saat aku sering mendengar permasalahan yang mereka hadapi, seperti perlakuan tidak manusiawi yang sering kapten kapal maupun agency lakukan kepada mereka. Ketika itu aku berfikir, apakah yang aku lakukan selama ini sudah cukup untuk mereka? Tentu jawabannya tidak dan bahkan jauh dari harapan. Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk masalah dan keluh kesah mereka. Jika mereka ada masalah pun, aku hanya bisa membantu semaksimal yang bisa.aku lakukan sesuai kapasitasku.

Jika ditanya apakah perwakilan pemerintah Indonesia di Taiwan sudah melakukan yang terbaik? Aku bisa menjawab mereka berusaha untuk melakukan yang terbaik meskipun belum maksimal. Banyak hal yang perlu dibenahi..mulai dari pra pemberangkatan sampai mereka tiba disini. Banyak dan bahkan banyak sekali PR yang harus pemerintah kerjakan untuk ini. Dan semoga mereka para pengambil kebijaksanaan akan segera bisa mentuntaskan semuanya.

Setelah itu selama perjalanan aku berfikir, betapa kontras kehidupan yang aku jalani dibandingkan dengan mereka. Saat aku bisa bebas menikmati liburan dengan melihat indahnya pemandangan di bumi Formusa ini, mereka harus berjuang untuk keluarga mereka dirumah. Aku percaya, sebesar apapun pressure yang Prof. berikan kepadaku tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan dan perjuangan yang mereka lakukan.

Jika aku masih sering mengeluh dengan keadaanku, apakah aku bukan termasuk orang-orang yang ingkar? Dengan semua yang aku punyai saat ini, masih pantaskah aku untuk tidak bersyukur? Semoga Alloh akan selalu menjagaku, melindungiku dan membimbingku kedalam golongan orang-orang yang bersyukur.

Tetaplah berjuang saudaraku, tetaplah istiqomah berada dijalan-NYA. Kupanjatkan doa kepada-NYA, semoga semua amal yang kau lakukan menjadi amalan yang barokah dan jika saat ini kalian tidak bisa menikmati kebahagiaan seperti yang aku rasakan, semoga anak-anakmu yang akan menikmatinya.

Posted by: Tun Sriana | November 27, 2013

MeNJaDi PeNGaJaR iTu..

Sebenarnya ini cerita yang sedikit latepost. Tapi tak apalah jika sekedar dijadikan sebuah kisah untuk melengkapi lembaran-lembaran dalam hidupku karena pada dasarnya kisahku hanyalah kisah yang sangat sederhana.

Sejak bulan Agustus kemarin aku resmi menjadi salah satu dosen/guru/tutor atau entah apalah namanya di Universitas Terbuka Hongkong (UT Hongkong). Pelajaran yang aku ajarkan juga agak sedikit nyentrik jika dibandingkan dengan bidang ilmu yang aku geluti selama ini. Mungkin alasan mereka memilihku adalah karena aku pernah terjun dan bergabung untuk menyelesaikan permasalahan TKI jadi akhirnya aku harus menyampaikan materi “Hukum Ketenagakerjaan“.

Bukan kali pertama sebenarnya aku menjadi pengajar. Tapi kali ini ada kesan yang sedikit membekas dihatiku. Aku merasa beruntung karena aku bisa menempuh pendidikan dengan tenang tanpa harus membagi dengan pekerjaan sehingga aku memang benar-benar fokus untuk belajar. Pada saat bertemu mereka, aku menemukan semangat yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswaku. Bahkan ada salah satu dari mereka yang usianya sudah berkepala lima tapi tetap dengan semangat menuntut ilmu.

Dari pembicaraan singkat dengan beliau saat aku berkunjung kesana, alasan beliau untuk kuliah lagi diusianya yang sudah bisa dibilang tidak muda lagi karena beliau ingin memberi contoh kepada putra-putrinya bahwa semangat mencari ilmu itu tidak kenal alasan sibuk, capek dan bahkan usia dan beliau berusaha membuktikan itu.

Selain perasaan bangga karena telah mengenal mereka, aku juga merasa sangat bersyukur karena aku bisa berbagi ilmu yang memang tak banyak aku miliki. Aku menemukan ketertarikan yang luar biasa saat kami berdiskusi membahas banyak hal. Sharing pengalaman pribadi yang membuka matahatiku untuk lebih banyak bersyukur.

Kurang apa aku sebenarnya..?? Tuhan telah memberikan nikmat yang tiada tara untukku. Jika ditenggok kebelakang dan ditanya siapa keluargaku? Aku hanya seorang anak desa yang jauh jika dibilang kaya dan orang tuaku pun tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Hanya satu yang aku yakini sejak kecil bahwa Tuhanku maha kaya dan DIA tidak akan membiarkan aku miskin diatas buminya apalagi miskin dihadapan makhluknya yang lain.

Selama masa perkuliahan, aku tidak pernah melihat kendornya semangat mereka. Tugas yang aku berikan selalu dikumpulkan sebelum batas waktu yang ditentukan. Saat kuliah online pun mereka dengan semangat dan antusias menyimak materi yang aku berikan. Dari merekalah aku belajar banyak, termasuk belajar bagaimana aku harus berjuang menyelesaikan study ku disini. Aku yakin jika mereka mampu akupun mampu. Aku selalu berdoa untuk mereka dan untuk diriku sendiri, semoga suatu hari nanti kita akan bisa bersama-sama membangun bangsa dengan cara kita masing-masing.

Teruslah berkarya, teruslah belajar semoga Tuhan selalu memberi kita kemudahan saat kita sedang berjuang di jalan-NYA.

Posted by: Tun Sriana | November 27, 2013

KaPaN HaRuS JaTuH CiNTa

Jatuh cinta berjuta rasanya, begitu banyaknya pujangga menuliskan dalam sajak mereka. Tapi sebenarnya kapankah seharusnya kita jatuh cinta? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab tentunya karena perasaan merupakan sebuah rahasia dan hanya kita sendiri yang akan mampu mengontrolnya.

Sebenarnya tulisan ini hanya sebuah ungkapan kegalauan yang sedang aku alami, bukan galau karena aku sedang jatuh cinta atau patah hati. Tapi tentang kegalauan banyak kasus bunuh diri belakangan ini yang aku baca maupun dengar hanya karena masalah cinta. Selain itu banyak juga aku mendengar cerita-cerita mengerikan seseorang yang punya pengalaman pahit tentang masalah cinta dimasa lalunya yang akhirnya seperti membekas dialam bawah sadarnya dan sangat berpengaruh dengan keputusan-keputusannya saat ini. 

Karena aku bukanlah orang yang punya latar belakang pendidikan psikolog maka aku hanya menganalisanya dalam sudut pandangku sendiri.  Benar menurut pandanganku sendiri dan pastinya tidak bisa dibenarkan dari sudut pandang manapun juga. 

Belakangan ini, aku sering mangamati facebook dari beberapa keponakanku yang memang sedang beranjak dewasa. Dari wall merekalah aku bisa tahu jika saat ini mereka sedang kasmaran atau mabuk cinta tanpa aku perlu bertanya. Tidak masalah tentunya, tapi karena usia mereka yang masih terlalu belia (kembali menurut pandanganku) karena baru memasuki bangku sekolah menengah pertama itulah yang menjadi masalah.

Sebagai seorang dewasa yang telah banyak melihat dunia dengan segala kerlap-kerlipnya aku sadar jika banyak peluang yang akan terjadi pada usia-usia tersebut. Pada rentan usia 12-17 tahun adalah masa-masa dimana seorang bocah itu seharusnya masih asik dengan mainannya dan buku-buku pelajaran mereka bukan malah asik memikirkan hal yang belum saatnya dipikirkan seperti jatuh cinta. Pada usia tersebutlah mereka bisa menghabiskan masa-masa indah bersama banyak teman dan sahabat membangun fondasi diri yang kuat untuk menyongsong masa depan. Tapi pada kenyataannya, pada usia mereka jugalah seseorang akan mengalami frustasi dan depresi yang luar biasa saat mereka mengalami masalah atau kekecewaan dalam dirinya dan hal tersebut akan membekas kuat dalam hati dan akan dibawa sampai nanti.

Aku pernah mendengar kisah seorang teman yang sudah gonta-ganti pasangan entah kesekian kalinya. Dia seperti selalu serius memutuskan menikah dengan seseorang yang telah melamarnya, tapi pada menjelang hari H saat semua acara telah disiapkan dia akan membatalkan pernikahan itu tanpa memberikan alasan kepada calon suaminya. Hal ini tidak hanya terjadi tiga atau empat kali tapi lebih dari itu. Saat keluarga telah berharap bahwa dia akan benar-benar memutuskan menikah dengan seorang pria pilihannya, kembali dan kembali keluarga dibuat kecewa dan malu karena keluarganya harus meminta maaf kepada keluarga sang pemuda tersebut. Kemudian selidik punya selidik ternyata dia telah mengalami trauma pada usia belia karena orang yang dia cintai telah meninggalkannya. 

Mungkin bagi orang dewasa, patah hati mungkin hal sangat biasa tapi tidak untuk mereka yang masih sangat labih dalam menyingkapinya selabil usianya. Aku mungkin belum punya pengalaman bagaimana menghadapi anak-anak pada usia tersebut, tapi seharusnya mereka menghabiskan masa kecil mereka untuk hal-hal yang menyenangkan dan bersiap untuk menjadi seseorang yang tangguh pada masa mudanya. 

Bagaimanapun itu, pasti kembali tergantung pada tiap-tiap pribadinya dan pendampingan orang tua selama mereka tumbuh dewasa. Sayang rasanya, jika melihat seseorang dengan kemampuan yang excelent dalam banyak hal tapi karena trauma masa lalunya menjadikanya  menjadi seseorang yang labil dan tidak bisa dengan lues menghadapi hidup ini. Karena hidup ini keras, maka seharusnya kita menjadi air yang mampu menembusnya.

Posted by: Tun Sriana | November 22, 2013

KaLa…

Ini adalah sepenggal kisah yang sedang aku lalui. Melewati setiap malamku dengan berselimut perasaan rindu. Adakah kau tahu akan makna mencintai? Sehingga aku tak perlu takut jika suatu saat kau akan menorehkan luka di hati ini.

Ini bukanlah sebuah cerita tentang kegalauan. Ini hanyalah sebuah harapan dan perenungan. Jika masa itu datang.. Dan saat pekatnya malam berganti dengan sinaran di pagi hari. Aku berani menjamin saat itu… Aku masih memegang teguh janji yang pernah terucap lirih dalam sanubari.

[Untukku, untukmu, untuk dia, mereka dan kita]

Posted by: Tun Sriana | November 21, 2013

SaaT KaMu MenJaDi…

Ada suatu yang mengelitik pikiranku dari tadi, sesuatu yang menggangu konsentrasiku. Meskipun pikiranku harus terbagi dengan kesibukanku untuk menyelesaikan power point yang akan aku gunakan untuk presentasi project di NSC (National Science Council of Taiwan) akhir pekan ini, tapi hal ini seperti tak bisa aku abaikan begitu saja.

Sebuah cerita simple sebenarnya. Mungkin hampir semua orang yang pernah tinggal di Taiwan tahu bahwa Tenaga Kerja Indonesia yang ada disini hampir menjapai 200 ribu jiwa. Bukan jumlah yang kecil tentunya. Dan mungkin tak banyak yang tahu jika aku pernah bergabung dengan tim Bidang Tenaga Kerja di Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI-Taipei) untuk menangani masalah Tenaga Kerja Indonesia tersebut. Banyak lika-liku dan cerita yang telah mengajariku banyak hal, mengajariku bagaimana menjadi pendengar yang baik, menjadi seorang teman dan sahabat dan mungkin terkadang menjadi satu-satunya harapan yang masih tersisa bagi mereka. Meskipun tak jarang pula, banyak cacian dan makian yang diterima. Aku tidak pernah ambil pusing dengan semuanya, selama niat yang ada adalah untuk membantu mereka dan meminta ridho-NYA.

Itu adalah sebagian perjalananku selama merantau di negeri Formasa ini. Alasan yang menyebabkan aku mengundurkan diri dari tim yang solid tersebut adalah karena aku berusaha mengembalikan jalan hidupku ke track yang semestinya aku lalui yaitu sebagai seorang mahasiswa dan lebih tepatnya menjadi seorang Ph.D candidate yang sebenarnya.

Selama bergabung dengan Naker-KDEI, aku telah banyak mengenal berbagai tipe orang dan karakter orang yang berbeda-beda. Aku hampir kenal dengan orang-orang yang ditokohkan ataupun disegani oleh tenaga kerja Indonesia dari mulai Taipei sampai Pintung dan bahkan pulau Penghu yang berada diluar pulau Taiwan. Mengenal mereka adalah sebuah kehormatan tersendiri untukku. Karena dengan mengenal mereka aku benar-benar mengerti makna berjuang dan terkadang mengorbankan keselamatan bahkan nyawa hanya untuk sebuah kata “demi untuk kehidupan yang lebih layak”.

Aku sering terbawa rasa rasa haru, saat aku menerima kabar bahwa orang-orang yang aku kenal selama disini atau bahkan orang-orang yang pernah kenal denganku saat mereka menghadapi masalah akhirnya sukses di kampung halaman. Entah mereka akhirnya memutuskan berwiraswasta dengan membuka warung ataupun ikut bergabung dengan PJTKI dan membantu mengirimkan jasa tenaga kerja ke Taiwan ini.

Dari sinilah kegelisahan itu mengusik sanubariku. Aku kenal mereka saat disini, aku tahu dari mereka betapa berat pekerjaan yang mereka harus lakukan untuk setiap lembar NT$. Aku menjadi paham, bahwa bekerja di luar negeri apalagi menjadi seorang pekerja kasar bukanlah pilihan yang mudah. Tapi saat mereka kembali ke Indonesia dan bergabung dengan PJTKI sepertinya mereka lupa akan cerita pedih yang pernah mereka alami. 

Entah apa yang telah terjadi… Mungkin saat ekspektasi yang kita inginkan berubah maka berubah pula cara berfikir kita. Mungkin dan itu sangatlah rasional. Tetapi… tidak adakah sedikit hati nurani atau paling tidak cerita pedih yang pernah terjadi memberikan pelajaran bagi kita untuk mencintai sesama? Aku paham dan cukup tahu keadaan di tanah air tercinta, terkadang pilihan menjadi tenaga kerja keluar negeri adalah salah satu jalan untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi yang sedang menghimpit. Tetapi… bukankah tidak seharusnya menyelesaikan masalah dengan masalah? kenapa aku menyebutnya masalah? karena jika kita mengambil pilihan untuk  menjadi TKI tanpa ada bekal dan keahlian yang cukup itu akan menjadi simalakama untuk diri sendiri.

Mengirimkan tenaga manusia tanpa keahlian sama saja mengirimkan bangkai saudara sendiri ke negara orang. Tidak perlu kita pungkiri dan itu sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak ABK (anak buah kapal) dari Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis. Mungkin masalah itu masih dianggap enteng, tetapi pada kenyataannya banyak dari mereka yang tidak bisa berenang. Bagaimana mungkin seseorang yang bekerja di air dan bahkan dilaut lepas kemampuan untuk survive pun tak ada? Itu adalah kemampuan dasar sama seperti halnya burung yang tak bisa terbang, lalu bisa apa dia? Itulah keadaan ironis yang terjadi dengan saudara-saudara kita.

Aku masih bisa sangat memahami kondisi mereka, tetapi yang tidak bisa aku terima dan toleransi adalah ketika salah satu dari mereka saat kembali ke Indonesia dan memilih bekerjasama dengan PJTKI dan kemudia mengirim tenaga kerja ke Taiwan dan ketika tenaga kerja tersebut ada masalah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Membedakan antara KDEI (Kantor Dagang Ekonomi Indonesia) dan BLA (Bureau Labor Affair) aja mereka tidak bisa. Ini menjadi sebuah tanda tanya besar dalam hatiku, staff dari sebuah PJTKI saja sudah tidak kompeten bagaimana mereka akan mengajari anak buahnya yang akan dikirimkan ke luar negeri? apakahPJTKI hanya  menganggap seorang tenaga kerja hanya dijadikan sebagai pencetak uang tanpa mereka perduli bagaimana mengajari mereka untuk bisa bertahan dan survive selama di negara orang?

Jika kita masih punya hati nurani, kita akan berfikir seribu kali untuk melakukan itu. Kebahagiaan didunia tidak seberapa tapi keadilan di akhirat itulah yang pasti. semoga saat aku menjadi seseorang yang harus mengambil keputusan untuk orang banyak, aku akan selalu dilindungi untuk mengambil keputusan yang tidak akan melukai hati siapapun. Tidak mudah memang menjadi seseorang yang idealis apalagi saat kita sudah terjun ke masyarakat, paling tidak saat kita sudah tidak bisa lagi idealis, kita masih mampu mengunakan perasaan dan hati kecil kita. Dan semoga Alloh menjaga hati kita untuk selalu tetap terjaga mengingatknya, takut akan adzabnya dan tidak pernah mematikannya sampai akhir kehidupan kita didunia. 

Posted by: Tun Sriana | November 19, 2013

SeJaRaH iTu………

Aku berusaha untuk mengukir sendiri sejarah dalam hidupku. Berusaha menuliskan tiap perjalanan dalam lembaran-lembaran sanubariku. Apa yang sedang aku jalani adalah sebuah proses untuk menjadikan ku menjadi orang yang lebih baik. Baik dalam parameter yang aku ukur dengan kesepakatan pada diriku sendiri.

Tak banyak yang berubah dalam perjalananku. Tak banyak yang bisa aku lakukan untuk segera menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Entah sampai kapan aku akan berada dalam kondisi seperti ini, yang pasti selalu ada saat aku merasa lelah dan jenuh dan saat itulah aku merasa betapa berwarnanya hidup ini.

Banyak hal yang ingin aku tuliskan, banyak cerita yang ingin aku bagikan tapi terkadang otak ini enggan untuk membantuku. Membantku merangkai kata menjadi sebuah cerita.

Satu hal yang tidak pernah berubah, satu rasa yang aku pendam dalam di dasar sanubariku. Sebuah rasa yang saat dia muncul seperti mampu membelah tubuhku jadi berkeping-keping dan rasa itu jugalah yang mampu membuatku bertahan untuk menjalani setiap penderitaan.

Apakabar dia yang ada disana? Apakah mungkin suatu saat kita akan bisa bersua? 

Posted by: Tun Sriana | July 1, 2013

Hampir Setahun..

Tidak terasa sudah hampir satu tahun blog ini terlupakan, banyak hal yang telah berubah selama kurun waktu tersebut. Salah satunya adalah keputusan besar yang telah aku ambil untuk pindah laboratorium di injury time masa study Ph.D ku. Bukan keputusan yang mudah tapi ini adalah keputusan terbaik yang bisa aku ambil.

Jika aku ditanya apakah pindah lab merupakan hal yang mudah? tentu aku akan menjawabnya tidak. Ini adalah keputusan besar yang harus diimbangi dengan besarnya effort yang harus aku keluarkan untuk belajar sesutu yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Jika di lab sebelumnya aku bisa menyelesaikan membaca satu paper dengan kurung waktu antara 2-3 jam, di lab yang baru ini aku membutuhkan waktu antara 2-3 hari atau bahkan lebih. Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan, Alloh memberikan otak dengan kemampuan superior agar kita bisa terus belajar dan mampu menyerap sesuatu yang kadang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Beruntung karena aku mendapatkan Professor yang sangat kooperatif dan sangat memahami semua kekurangan yang aku punyai. Selain karena aku pindah jalur dari lab dengan basic experiment menjadi simulasi, di lab yang baru ini basic knowledge adalah chemistry yang jauh dari basic ilmu yang aku miliki sebelumnya. Apapun itu dan seberat apapun itu, keputusan yang telah aku ambil adalah sesuatu yang harus aku jalani, aku perjuangkan dan aku punya kewajiban untuk menyelesaikannya.

Tak harus banyak mengeluh, karena keluhan tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Menyemangati diri sendiri dan mempercayai segala takdir yang telah Alloh gariskan adalah cara ampuh untuk tetap bisa positive thinking, sabar dan ikhlas menjalani segala sesuatu yang telah digariskan.

Banyak hal yang bisa aku syukuri, karena aku merasa Alloh begitu sempurna membuat jalan yang harus aku lalui dengan segala kebahagiaan dan kebahagian itu tidak akan berasa jika tanpa ada duka dan air mata.

Posted by: Tun Sriana | July 30, 2012

Ibu iTu…

Malam yang telah larut menemani langkahku. Aku terdiam sendiri di halte bus sambil memandang jalan yang tak berujung didepanku. Malam ini seperti biasa aku pulang dari dokter untuk terapi tanganku sampai larut, hal yang sangat biasa aku lakukan berdiam di halte bus sambil memikirkan segala hal yang kadang tidak seharusnya dipikirkan.

Dari jauh aku melihat seorang ibu yang sedang mengendarai sepeda ontelnya yang membawa berbagai barang bekas dan segala macam botol-botol bekas. Yah…. ibu itu adalah seorang pemulung, aku tak pernah tau seperti apa sebenarnya kehidupannya. Tapi jika ditenggah malam seperti itu, beliau masih bekerja untuk sebuah alasan pastinya bukan sebuah pilihan yang mudah dan bukan pula hidup yang mudah.

Saat aku memandanginya takjub, tiba-tiba barang-barang yang beliau bawa terlepas ikatanya dan hampir sepertiga dari barang-barang itu bertebaran dijalanan. Trenyuh…. itulah perasaan yang aku rasakan, ada beban yang mendorong keluar didadaku yang menyebabkan nafasku sesak. 

Di negara yang begini maju, masih juga aku temui kesenjangan sosial. Masih juga aku dapati perbedaan nasib yang jika dilihat dengan kaca mata materi bisa dibilang tidak adil. Namun aku selalu percaya apa yang aku lihat adalah sebuah bentuk bagaimana Tuhanku mengirimkan sebuah pelajaran buat aku. Pelajaran agar aku bersyukur dengan apa yang telah DIA berikan padaku.

Posted by: Tun Sriana | July 27, 2012

PaNcaRaN SiNar MaTa iTu…

Kemarin saat aku berjalan disebuah pelabuhan di negeri Formosa ini, aku bertemu dengan seorang anak muda yang masih berusia tanggung. Saat aku melihat sekilas tatapan matanya, aku teringat dengan keponakanku yang aku yakin usianya tidak jauh berbeda dengannya. 

Tatapan mata itu masih sangat lugu, masih sangat takut-takut untuk melihat sekitar dan seperti berusaha menyembunyikan sesuatu yang tersimpan. Saat kami bercakap-cakap dengannya terucap satu kalimat.. “Apapun yang terjadi memang sudah digariskan mbak, saya hanya berusaha sabar dan ikhlas menjalaninya”. Sabar dan Ikhlas, sebuah  kata yang indah didengar tapi jujur sampai saat ini aku pun belum pernah bisa mengambil inti dari dua kata tersebut. Kembali Tuhanku mengirimkan nasehat itu untukku…..

Older Posts »

Categories