Menjalani rutinitas harianku, mempersiapkan ujian dan conference yang menyita banyak pikiranku, membuat rutinitas harianku berubah total. ada kalanya satu hari aku tak bisa memejamkan mata tapi dihari yang lain aku tak bisa membuka mataku meskipun hanya itungan detik. Ingin kembali hidup normal tapi aku memutuskan untuk membiarkan semuanya berjalan seperti sekarang. Mungkin setelah moment-moment besar itu aku akan mengembalikan pola hidupku menjadi manusia senormal-normalnya.
Hanya untuk menjaga stamina tubuh agar tidak ngedrop, aku berusaha untuk menjalani rutinitas olahraga pagi. karena pada dasarnya aku adalah seseorang yang malas berolahraga maka sepeda pagi merupakan piihanku. Bukan tanpa alasan, karena aku mengangap itu adalah olah raga yang paling ringan yang bisa aku lakukan selain aku bisa menikamti udara pagi yang mulai dingin karena memang winter yang sudah mulai menjamah Taiwan dan aku juga bisa menikmati pemandangan pagi hari yang tersajikan dengan sempurna.
Setiap pagi aku ayuh sepeda baru yang baru aku aku beli, menyusuri tiap jalan di NTU. Pelan dan aku akan membiarkan semua pikiranku mengembara kemana-mana. Menikmati setiap tarikan nafasku, menikmati keindahan yang bisa aku lihat dengan mataku dan mendengarkan setiap suara yang bisa aku dengarkan dengan pendengaranku.
Entah kenapa, pagi ini aku tiba-tiba merindukan Ibuku. Aku teringat aktifitas pagi hari dikampungku. anak-anak yang pergi ke sekolah, Ibu-ibu yang pergi kepasar ataupun bapak-bapak yang mulai berangkat kesawah. Biasanya jam segini, Ibu sudah menyelesaikan masakan beliau untuk sarapan. semua menu telah tersedia di meja, aku akan membantu beliau meskipun hanya celotehan pagi hariku dengan meminta ibu memasak ini dan itu.
Aku memutuskan untuk menelphon beliau, meskipun belum 1 minggu yang lalu aku melakukannya untuk mengabarkan kegagalanku. Suara khas beliau dan pertanyaan beliau membuat gemuruh kerinduan didadaku tak bisa aku redam. Celotehan pagi hari yang biasa aku lakukan dulu, terulang sudah. Semua perjalanan hidup yang telah aku lakukan, semua rasa yang aku rasaka semua mengalir ringan dari mulutku. selalu ibu mendengarkan dengan seksama, memperlakukan aku sama seperti aku 10 atau 20 tahun yang lalu.
Tapi pagi ini ada satu pertanyaan yang beliau tanyakan. Pertanyaan yang seharusnya bisa aku jawab, pertanyaan sederhana dari seorang Ibu yang mengkhawatirkan anaknya, pertanyaan sebagai bukti cinta beliau kepadaku tapi pertanyaan yang tak pernah aku tau jawabnya. Aku terdiam, aku merenung dan aku berusaha untuk bisa memberikan jawaban terbaik yang bisa aku berikan. Aku merasakan duniaku berhenti berputar. Aku tak ingin menyakiti hati beliau, aku tak ingin memberikan jawaban yang membuat beliau sedih dan aku tak ingin menjawab tidak sesuai dengan kata hatiku. Ibu selalu faham dengan kondisi ini, dengan suara lembut khas beliau menarik kembali pertanyaan itu. Tidak, aku tak mungkin tidak menjawabnya. entahlah pikir apa yang merusak otakku, atau setan apa yang telah mempegaruhi jiwaku, dengan suara pelan, hati-hati, ragu, takut dan berjuta perasaan yang lain akhirnya satu jawaban yang keluar dari mulutku. “Karena aku menginginkannya Ibu……”. aku hanya bisa diam, menunggu respon yang diberikan beliau.
Aku hanya bisa mendengar helaan nafas dari jauh. setelah itu beliau menjawab “kalau itu keinginanmu..kerjalah, kamu tahu itu akan menjadi sesuatu yang berat dalam hidupmu. butuh kesabaran, ketekunan, keihklasan untuk menjalaninya. Ibu akan ada disampingmu, dibelakangmu dan didepanmu untuk membimbing, menemani dan mendukung agar kau bisa mendapatkan impian yang ingin engkau capai”.
Terimakasih Ibu..untuk semua cinta yang telah engkau berikan, untuk kasih sayang yang tak pernah lelah engkau alirkan dan untuk setiap darah, keringat dan air mata yang telah engkau korbankan. Aku akan menjaga setiap apa yang telah kau berikan padaku, aku akan selalu menjalankan setiap amanah yang engkau titipkan. Selalu dampingi langkahku Ibu, dampingi aku untuk mengapai semua asa dan cinta yang sedang aku perjuangkan sekarang. Syukurku Ya Alloh…Syukur yang tak pernah bisa aku tuliskan hanya dengan sekedar kata-kata.