Meluangkan waktu disela kesibukan, memberikan sedikit yang aku punya untuk orang lain, itu adalah hal yang ingin aku lakukan. Seperti yang dikatakan seorang teman kepadaku “kita berada disuatu tempat untuk satu alasan, Tuhan tidak akan pernah memberitahukan apa itu sampai kita mencari tahu dan menemukan jawabannya”
Dengan menyandang status “Mahasiswa” merupakan sebuah anugrah yang besar dari-NYA dan bukan berarti aku mesti bersombong diri darinya tapi aku merasa dengan status itu aku bisa melakukan apapun yang bisa aku lakukan, bergerak bebas tanpa ada beban meskipun tak jarang teguran dan tatapan mata “sinis” dari Prof aku terima saat aku tak bisa memberikan progres yang memuaskan untuknya. Tapi bagiku itu bukan soal karena aku ingin hidupku bukan hanya untukku tapi juga untuk orang-orang disekitarku.
Saat aku memutuskan bergabung bersama teman-temanku dan mengawangi sebuah misi besar, aku merasa bersemangat dan senang karena aku berharap disanalah aku bisa memberikan sedikit yang aku punya dan lakukan meskipun disela padatnya aktifitasku.
Semua berubah dengan berjalannya waktu, dan aku merasakan sesuatu yang aku bangun dengan niat baik harus terbentur dengan ego dan hati nurani. Pertama, kedua dan ketiga kalinya aku mencoba untuk bertahan tapi disaat diskusi bukan lagi sebuah solusi dan prasangka menjadi yang utama, saat setiap orang tidak dengan sadar dan menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya aku menyerah. Aku menyerah karena aku merasakan tanggung jawab itu telah berubah menjadi sebuah beban.
Seperti picik kedengarannya dan aku mengakuinya. Tapi aku mempunyai alasan yang sangat kuat, alasan yang menurutku paling benar dan paling masuk akan aku lakukan. Bagaimana tidak, jika seharusnya tempat yang bisa menjadi ladang amal buat kita namun pada akhirnya menjadi tempat menuai dosa karena sudah tidak ikhlas, sering mengeluh dan merasakan setiap saat adalah emosi dan hanya perasaan ingin marah saat semua yang ada terlihat tidak sesuai dengan standar paling dasar yang telah ditetapkan. Dan saat itu pergi adalah pilihan yang paling tepat.
Jika aku ditanya, bagaimana perasaanmu? aku akan menjawab sedih dan teramat sedih. Sedih bukan karena aku tak bisa eksis disana tapi aku merasakan sedih saat aku sudah tak bisa menyebarkan kebaikan dan seperti yang aku katakan aku sudah tidak bisa lagi memberikan sedikit yang aku punyai itu.
Sepertiga malam setelah aku mengambil keputusanku, aku berdoa kepada Tuhan-Ku, semoga saat aku kehilangan kesempatan itu DIA akan memberikan aku tempat yang lain, tempat dimana aku bisa menyebarkan kebaikan, memberikan yang aku punyai, belajar banyak tentang arti hidup dan kehidupan. Semoga aku menemukan teman-teman yang menjunjung tinggi sebuah kebersamaan bukan menjunjung tinggi ego masing-masing. Bisa saling mengingatkan saat salah dan bukan merasa benar sendiri. Semoga saat itu aku bisa belajar ikhlasnya makna memberi dan indahnya saat aku bisa menerima.
From Friends